Marry A Boy Who Travel

Semuanya berawal dari Forbidden City di Beijing, China.

Rasa senang karena akhirnya bisa mengunjungi tempat yang terkenal di China ini sedikit luntur karena begitu menginjak gerbang masuk, ternyata antrian para turis panjang betul. Ramai ternyata. Ya iyalah..

Ketika traveling, gue ga anti dengan tourist spot. Beberapa memang gue hindari kalau tidak terlalu worth it. Tapi beberapa tempat lain memang pantas untuk dikunjungi karena it was simply beautiful. Dan Forbidden City salah satu diantaranya.

Terjebak dalam antrian selalu punya ceritanya masing-masing, dan gue selalu berusaha menikmati  setiap pengalaman selama traveling. Mau enak atau ga enak, sama aja buat gue. Selalu ada hal yang bisa diceritakan. Seperti misalnya betapa gue sangat senang ngeliatin wisatawan cina (well, sorry to use that word, masalahnya they look all the same to me, sipit putih gitu, ga tau aslinya dari mana) karena gaya berpakaian mereka selalu ajaib hahaha.. Ngeliatin cewek-ceweknya jalan jauh, naik turun tangga menggunakan high heels is beyond me. Salut bok! Belom lagi angkatan tuanya yang kalo pake baju motif dan warnanya nabrak sana-sini ga tentu arah. Cukup memberi hiburan dan bisa membuat gue cengar-cengir sendirian.

Tapi bukan itu sih yang mau gue ceritain.

Di tengah antrian pemeriksaan tas dan metal detector, pandangan gue ga sengaja tertuju pada pasangan manula beberapa meter di depan gue. Dari pandangan sekilas, gue menebak mereka Caucasian. Sang nenek berjalan menggunakan tongkat sambil menenteng kursi kecil untuk duduk, berdampingan dengan si kakek yang berjalan gagah sambil memanggul ransel. Mereka terlihat berjalan cukup gesit untuk usianya, meskipun juga tampak berhati-hati. Awesome! Itu hal pertama yang muncul di pikiran gue.

Gue selalu terkesan dengan manula yang masih semangat bepergian kemana-mana. Seperti yang gue tuliskan dalam post sebelumnya, bahwa gue juga ingin bisa terus traveling sepanjang gue hidup, sehat, dan kuat. Dan pemandangan yang gue saksikan tersebut bahkan jauh lebih hebat lagi efeknya ke gue. The idea to have a traveling partner for your entire life, captivates me for a moment.

Imajinasi mulai bermunculan. It’s always fun to travel with your friends, but to share a beautiful moment with your loved one, I bet it will feels different. Meskipun ga bisa dipungkiri juga, you know the saying about traveling with your partner (boyfriend/girlfriend), it’s either you make it or you break it.

Traveling itu memunculkan sifat asli seseorang. Mau sama temen atau pacar, akan keliatan kok sifat aslinya masing-masing, apalagi kalau sedang ada perbedaan pendapat atau dalam situasi yang ga menyenangkan. Saat nyasar, saat rencana tidak berjalan mulus, in emergency situation. Pokoknya when you’re under a stressful situation keliatan deh apakah kita tipe gampang panik, tenang, nyebelin, dsb. Dan traveling bisa memperburuk semuanya karena ditambah dengan faktor berada di tempat asing, bersama orang asing, dan mungkin juga ada language barrier.

So, my ultimate test for choosing a life partner would be traveling together hahaha.. Serius.

Itulah yang kemudian membuat gue banyak berpikir ketika melihat pasangan manula tersebut. Gue tidak tahu seperti apa hubungan yang mereka miliki, what kind of ups and downs they might experienced during their entire relationship. But to keep the commitment and stay together for so long, I assume it’s a strong one.

A kind of relationship I would love to have for myself.

Begitu terpesonanya dengan mereka, gue berusaha mengejar pasangan tersebut. Gue ingin memotret mereka dari belakang, cuma untuk pengingat bahwa for some of us, true love does exist.  Gue  akhirnya berhasil mendapatkan foto mereka secara tidak sengaja. Namun, terpisahkan oleh banyaknya orang yang ada disana, gue bahkan tidak berhasil mengejar dan melihat wajah mereka dengan benar. But one thing for sure, sampai sekarang gue masih mengingat mereka dengan jelas, and how I wish them happiness, good health, and more love and adventure in their life together.

Advertisements

Why Long-Term Travel Won’t Work For Me

Sometimes I wonder what it feels like to be able to travel without the limitation of time..
– A sundial at Forbidden City, China –

Baru saja membaca satu artikel mengenai ‘long-term travel’ dan ide itu terasa jauh banget dari gue. Lucu aja rasanya, karena orang yang senang traveling biasanya punya impian untuk pergi keliling dunia, pergi dalam waktu lama, take a gap year or whatever. Tapi gue ga pernah menginginkan itu. Meskipun gue senang traveling. Meskipun gue juga punya mimpi bisa keliling dunia.

Mungkin gue ga berani ambil keputusan untuk benar-benar pergi dalam waktu lama. Alasan sih banyak, keluarga mau ngomong apa? Pasti banyak banget yang mereka khawatirkan dari gue. Dan begitupun gue juga mengkhawatirkan orang-orang yang akan gue tinggalkan. Are they gonna be okay?

But then again, mungkin sebenarnya bukan itu alasannya. Mungkin justru sebaliknya. What if I go and nobody miss me. What if I go, but in the end I found myself being miserable and unhappy. What if.. What if.. And lots of what if.

So yeah, that just me being highly insecure.

Anyway.. There’s still another reason. Dan gue tahu ini alasan utama kenapa gue ga ingin pergi sekaligus dalam waktu lama. Karena setelah itu semua berakhir, gue takut ga bisa menjawab..

“Ok Astra, udahan kan trip keliling dunianya, and now what…”

I don’t want it to be an end.

Dalam perjalanan dari Lombok ke Labuan Bajo, gue berkenalan dengan pasangan Belanda yang punya target pergi ke 30-an negara di seluruh dunia dalam waktu 1.5 tahun. Saat pertemuan itu, mereka sudah bepergian selama +/- 1 tahun, dan bangga betul dengan backpack mereka yang berhiaskan deretan emblem bendera negara-negara yang sudah mereka kunjungi. Iri dong gue. Asli pengen banget. Sumpah!

Tapi, setelah beberapa hari semakin mengenal mereka, obrolan pun bergulir. Mereka membayangkan dalam waktu dekat akan mengakhiri perjalanan tersebut. Kembali ke Belanda. Kembali ke apapun yang masih mereka miliki disana. Mengunjungi keluarga. Dan salah satu dari mereka mungkin akan melanjutkan sekolah lagi.

“(To travel like this) it’s a one time opportunity. But after this, we probably will never going anywhere again for the rest of our life.” – this is what they said.

And I don’t want to be like that.

Gue sudah melakukan perjalanan sedari kecil. Jadi gue selalu membayangkan bahwa gue akan terus melakukan perjalanan sepanjang masih hidup, kuat, dan sehat.

Unlike common perspective yang sering bilang “lo puas-puasin aja traveling sekarang, kalo udah berkeluarga mana sempat, etc.”. Well, justru I’m quite positive bahwa meskipun suatu hari nanti mungkin gue akan berkeluarga dan punya anak dsb, tapi gue ga akan berhenti traveling. Kalo nyokap gue aja bisa bawa gue kemana-mana, pasti nanti gue juga bisa. That’s not gonna be a barrier for me to travel.

Mungkin pada akhirnya nanti gue belum tentu bisa mengunjungi semua negara yang ada di dunia. But, as long as I know that I wouldn’t stop traveling no matter what, I’m happy enough. Because, to always have the opportunity to travel, to explore, and to taste a little bit of adventure here and there, that’s what excite me through life.

Keep calm and travel more
– Budha statue at Borobudur Temple, Indonesia –