Why Long-Term Travel Won’t Work For Me

Sometimes I wonder what it feels like to be able to travel without the limitation of time..
– A sundial at Forbidden City, China –

Baru saja membaca satu artikel mengenai ‘long-term travel’ dan ide itu terasa jauh banget dari gue. Lucu aja rasanya, karena orang yang senang traveling biasanya punya impian untuk pergi keliling dunia, pergi dalam waktu lama, take a gap year or whatever. Tapi gue ga pernah menginginkan itu. Meskipun gue senang traveling. Meskipun gue juga punya mimpi bisa keliling dunia.

Mungkin gue ga berani ambil keputusan untuk benar-benar pergi dalam waktu lama. Alasan sih banyak, keluarga mau ngomong apa? Pasti banyak banget yang mereka khawatirkan dari gue. Dan begitupun gue juga mengkhawatirkan orang-orang yang akan gue tinggalkan. Are they gonna be okay?

But then again, mungkin sebenarnya bukan itu alasannya. Mungkin justru sebaliknya. What if I go and nobody miss me. What if I go, but in the end I found myself being miserable and unhappy. What if.. What if.. And lots of what if.

So yeah, that just me being highly insecure.

Anyway.. There’s still another reason. Dan gue tahu ini alasan utama kenapa gue ga ingin pergi sekaligus dalam waktu lama. Karena setelah itu semua berakhir, gue takut ga bisa menjawab..

“Ok Astra, udahan kan trip keliling dunianya, and now what…”

I don’t want it to be an end.

Dalam perjalanan dari Lombok ke Labuan Bajo, gue berkenalan dengan pasangan Belanda yang punya target pergi ke 30-an negara di seluruh dunia dalam waktu 1.5 tahun. Saat pertemuan itu, mereka sudah bepergian selama +/- 1 tahun, dan bangga betul dengan backpack mereka yang berhiaskan deretan emblem bendera negara-negara yang sudah mereka kunjungi. Iri dong gue. Asli pengen banget. Sumpah!

Tapi, setelah beberapa hari semakin mengenal mereka, obrolan pun bergulir. Mereka membayangkan dalam waktu dekat akan mengakhiri perjalanan tersebut. Kembali ke Belanda. Kembali ke apapun yang masih mereka miliki disana. Mengunjungi keluarga. Dan salah satu dari mereka mungkin akan melanjutkan sekolah lagi.

“(To travel like this) it’s a one time opportunity. But after this, we probably will never going anywhere again for the rest of our life.” – this is what they said.

And I don’t want to be like that.

Gue sudah melakukan perjalanan sedari kecil. Jadi gue selalu membayangkan bahwa gue akan terus melakukan perjalanan sepanjang masih hidup, kuat, dan sehat.

Unlike common perspective yang sering bilang “lo puas-puasin aja traveling sekarang, kalo udah berkeluarga mana sempat, etc.”. Well, justru I’m quite positive bahwa meskipun suatu hari nanti mungkin gue akan berkeluarga dan punya anak dsb, tapi gue ga akan berhenti traveling. Kalo nyokap gue aja bisa bawa gue kemana-mana, pasti nanti gue juga bisa. That’s not gonna be a barrier for me to travel.

Mungkin pada akhirnya nanti gue belum tentu bisa mengunjungi semua negara yang ada di dunia. But, as long as I know that I wouldn’t stop traveling no matter what, I’m happy enough. Because, to always have the opportunity to travel, to explore, and to taste a little bit of adventure here and there, that’s what excite me through life.

Keep calm and travel more
– Budha statue at Borobudur Temple, Indonesia –
Advertisements

4 thoughts on “Why Long-Term Travel Won’t Work For Me

  1. Jujur kalo buat gue kadang gue pengen banget traveling yang lama banget, berbulan-bulan gitu. Tapi kadang perasaan takut bosen suka muncul beberapa kali. But I believe one day I will do that!

    1. Yay my first comment! Thank you Bama :)
      Agree, gue juga suka takut bosen. Biasanya setelah 3-4 hari leyeh-leyeh gue kangen kerja masa hahaha (workaholic parah ;p).
      Tapi gue rasa kalau traveling dalam hitungan bulan, 2-3 months at max masih bisa deh. Lagian kalau mau ke Eropa / Amerika misalnya, sayang banget kan kalau cuma short stay. Good luck Bams!

  2. Gw punya perspektif lain. Once you travel, you’ll never stop, ga peduli mo lama apa sebentar. Gw rasa si bule Belanda itu bakal balik traveling lg at a certain point krn traveling itu nyandu, plus kelamaan ada di luar “zona aman” bikin lo bertanya tanya, what / where is home?

    1. Indeed. Rasa pengen traveling pasti sulit hilang, tapi ga bisa dipungkiri juga mungkin ada periode tertentu dalam hidup dimana kita lagi prioritaskan hal lain. Tapi kalau suka dan niat mah ada aja jalannya ya ga sih, curi-curi waktu buat traveling yang dekat dan murah. Whatever happens, traveling must go on hehe..

      Btw, how do you find this blog?? Ini blog sebenernya belom gue publish loh the, ga banyak yang tau hahaha. But thank you untuk comment-nya yeaay

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s