Filtered Tree

At first, there’s nothing special with this tree. But then it proved me wrong.

Ide awal tentang tulisan ini berasal dari sebatang pohon yang tidak istimewa, buah keisengan gue saat minggu lalu jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Melewati bagian Taman Mexico yang berisikan variasi tanaman seperti berbagai jenis kaktus dll (ketahuan banget pemahaman gue akan tanaman sangat minim..), gue iseng motret pohon yang bahkan namanya pun ku tak tahu. Sampai di rumah, berhubung belum bisa tidur gue main handphone utak-atik foto pohon ini menggunakan aplikasi untuk photo editing. Gue pernah males banget dengan aplikasi semacam ini, karena menurut gue cuma seperti make up, membuat foto jelek jadi kelihatan mendingan karena sentuhan alat, bukan karena keahlian orang yang motretnya. Tapi yaa.. setelah gue mencoba sendiri, ternyata memang menyenangkan. Sesederhana itu. Foto bisa dibuat sangat berbeda dengan aslinya, dan bahkan bisa disesuaikan dengan tema yang kita inginkan terpancar dari foto tersebut. Cerah ceria, gloomy, misterius, anything you want you named it. Tinggal kreatif apa nggak aja sih ngeditnya ;p

The sunset tree

Kemudian gue berpikir, alangkah serunya kalau mata gue bisa punya berbagai pilihan filter seperti ini. Setiap melihat pemandangan yang tidak enak atau tidak menyenangkan, gue bisa mengubahnya sesuai yang gue inginkan. Selama beberapa saat gue sibuk mengkhayal, sampai akhirnya tersadar bahwa sebetulnya we do have those filters. Filter tersebut berupa cara pandang kita terhadap segala sesuatu yang kita alami dan apa yang kita lakukan untuk membentengi diri dari hal-hal yang tidak menyenangkan. Contohnya, gue tidak ingat kapan terakhir kali nonton tayangan tv lokal. Gue suka nonton tv, tapi gue hampir selalu nonton tayangan tv asing dan benci tv lokal. Bukannya sombong, tapi menurut gue tidak ada yang bisa dipelajari dari tayangan-tayangan penuh pembodohan seperti infotainment, sinetron, dan acara musik yang penuh penonton bayaran. Belum lagi kalau nonton acara berita, banyak sekali hal negatif yang diekspose, bikin frustrasi dan gue selalu merasa tertekan setiap menontonnya. I’m avoiding all those negativity so I can protect my sanity. I tried to keep myself well informed with what was happening around the globe. But I don’t want to be  drawn and drown in it. A li’l bit egoist I know, but hey, my life is happening right here and right now. Ga penting juga terlalu banyak ngurusin orang lain. Toh kalau gue waras dan bisa berfungsi dengan baik justru bisa berbuat lebih banyak lagi untuk lingkungan sekitar gue.

Rainy season

Pola reaksi juga menentukan seberapa kita bisa tetap santai saat mengalami kejadian buruk. Let me ask you, pernah kehilangan dompet karena dicuri? Apa yang lo rasakan saat itu terjadi? Apa yang mungkin lo rasakan bila kejadian tersebut menimpa lo? Marah? Kesal? Nyumpahin orang yang ngambil supaya sial tujuh turunan? Yup menurut gue normal sih kalau merasa seperti itu. Gue justru pernah merasa tidak normal saat kehilangan dompet dengan cukup banyak uang di dalamnya, and… I feel nothing. I feel fine. Gue ingat sempat panik saat tidak bisa menemukan dompet gue dalam tas, dan saat tersadar bahwa memang betul hilang, gue menarik nafas dan pasrah. Hilang.. ya sudah.. mau diapain lagi, memang gue yang salah karena tidak berhati-hati. And that’s it. Gue justru sebal karena jadi harus ngurus KTP dll. Tapi ya sudah. Setelah situasi lebih tenang, gue ingat sempat duduk bengong karena merasa ada yang aneh. Kenapa gue tidak marah sama sekali, tidak sebal berkepanjangan, and so on.. and so on.. Sampai sekarang gue tidak tahu jawabannya. Mungkin saat itu gue belajar tentang arti pasrah yang sesungguhnya. Membiarkan saja apa yang terjadi, dan tidak memiliki ketakutan akan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tidak berpikir kalau gue tidak pegang uang sepeser pun, tidak memikirkan apa saja yang bisa gue beli seandainya uang gue tidak hilang, tidak memikirkan lagi kerja keras gue untuk mengumpulkan uang itu. Tidak memikirkan apapun. So, pasrah. I think that’s what helping me through that day.

Mysteriously weird

Tidak mudah memang untuk bisa bersabar saat sedang mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Gue sendiri juga masih terus berlatih untuk bisa melihat sisi positif dari segala hal. Masih ingat ga kapan terakhir kali lo merasa kesal terhadap sesuatu? Well, I do. Seseorang pernah mengatakan sesuatu yang sangat membuat gue tersinggung. Tuduhan tidak berdasar yang membuat gue tidak sekedar merasa sebal, bahkan sampai marah. Pada saat itu, bisa saja gue langsung memutuskan untuk menghapus orang tersebut dari hidup gue. But somehow, I just don’t want to burn the bridge. I know I’ll lose if I let my anger wins. So what I did, I was just tried to forgot it for a while. Masalahnya mungkin tidak langsung selesai begitu saja, tapi paling tidak di hari itu gue cukup bangga karena berhasil menahan diri dan mengontrol kemarahan gue. I think it could be a one step forward toward maturity. If something terrible happens, instead of getting mad or frustrated, I think it is better if we can push the pause button and try to figure out what we can learn from that situation. Be calm, and when you’re ready, take a step forward with a chin held high. Be proud, since you have win over your ego. And that is how you have your filtered world. Clean from every negativity.

Sometimes we don’t realize that we actually have the  privilege to create our own rainbow. And we’re the only one who can let that rainbow shine within our hearts and coloring our life.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s